(Source: 3-deagosto, via smokeallthetime)

@1 day ago with 30719 notes

stomp stomp stomp

“Lo jangan mau diinjek-injek cowok”- danisa, lewat bapaknya yang rock n roll

Well, kata kata itu timbul tenggelam. Di tengah ke idiotan gw dikala menghadapi sebuah fenomena mistis bernama cinta. *duilah*

“lo jangan mau diinjek-injek cowok”

……

A very bold statement. Siapa sih yang mau diinjek-injek? Jempol kaki lo keinjek ga sengaja aja rasa sakitnya luar biasa, apalagi kalo logika lo yang diinjek-injek? Tapi who knows pada suatu masa lo mengalami masa-masa kelam ketika ada setan turun dari langit yang menganggu nalar logika lo yang notabene sehat walafiat dan menjadikannya struk ringan?

Banyak banget masalah, baik di kehidupan nyata ataupun sinetron, yang jalan keluarnya sebenernya Cuma satu, jangan pernah mau diinjek-injek cowo, and you will totally fine. Case closed.

Sayangnya,ada sebagian orang yang sadar ga sadar udah keinjek-injek.

(telunjuk dari langit mengarah ke gue)

Yaa.. been there done that. Lucunya, gw jadi sadar tingkah laku temen-temen gue buat nyelametin gw dari keidiotan yang melanda cukup variatif; kebanyakan ngajak minum-minum sih, tapi yang paling remarkable itu ada yang jambak-jambakin gue, ada yang ngajakin gue rukiyah, ada yang ngasih bacaan doa&dzikir, ada yang ngajak ke banten buat beli jenglot, dan yang paling bermakna ada yang ngasih mantra aji pengasihan yang dia dapetin dari majalah misteri.

Eits, jangan mikir gue beneran baca mantra aji pengasihan itu yaa..

Sambil menutup tulisan ini, gw berjanji dalam hati agar kedepannya omongan bapaknya danisa akan selalu gue inget sampe mati, tidak lagi timbul tenggelam.

Salam setrong :))

@1 month ago

old friend named ‘death’

On one fine evening, me-fani-sashi-chika had a random conversation (like always we do). Mengalirlah obrolan ke masalah penyakitnya sashi, dan sampai pada topik “the curse of 27”. kira-kira inti dari pembicaraannya…

sashi : “yes, i’m going 26. and by next year, i’ll be 27

gw    : “klo gitu hati-hati sash, jaga kesehatan.. apa lagi elo musician”

fani   : “ehh winn!! ngomong sembarangan, gw sundut ya lo!”

…. di jalan pulang gw mikir. gw ga mikirin omongannya fanie. i always say what i’d like to say anyway. gw lebih mikir.. kenapa orang-orang sensitif banget sama topik tentang kematian? why they become so mad when it comes to ‘death topic’? kenapa orang selalu bersorak menyambut kelahiran, tapi terlalu gamang untuk menghadapi kematian? padahal kelahiran dan kematian adalah 2 kejadian yang pasti dalam siklus kehidupan manusia. kelahiran mungkin masih bisa dihindari ataupun ditolak manusia. tapi kematian, siapa yang bisa menolaknya? i think no one can stop it. except the almighty god. so what’s wrong with the death? 

kematian identik dengan kesedihan, penderitaan, dan perpisahan. mungkin perpisahan yang membuat kematian menjadi alasan utama mengapa topik tersebut dijauhi orang-orang. menurut gue, poinnya adalah: perpisahan dengan orang yang lo sayang untuk selamanya bukanlah sesuatu yang mudah bagi siapapun

ada satu cerita tentang kematian yang gue suka banget, yaitu the tale of three brother -Harry potter and the deadly hallows- kisah tersebut menceritakan tentang 3 saudara penyihir yang berhadapan dengan kematian. mereka berhasil mengalahkan niat licik kematian. sebagai imbalannya, kematian memberikan reward kepada 3 saudara tsb. the oldest brother minta tongkat sihir yg paling kuat, the 2nd minta batu yg bisa membangkitkan orang yg telah meninggal, and the youngest minta invisible cloak dengan maksud agar kematian tidak bisa mengikutinya….. singkat cerita, the oldest brother dibunuh seseorang dan tongkatnya dicuri. kematian pun mengambil nyawanya. the 2nd brother depresi karena kekasihnya yg telah meninggal nampak menderita walaupun telah dibangkitkan dengan batu abadi. ia pun memilih untuk bunuh diri, kematian berhasil mengambil nyawanya. the youngest brother? kematian berusaha mencarinya selama bertahun-tahun. tapi tidak kunjung menemukannya berkat invisible cloak. ketika merasa sudah cukup tua, ia pun mewariskan invisible cloak itu kepada anaknya. and the best line is… “and then he greeted death as an old friend, and went with him gladly, and they departed this life, as equals.”

gue memahami diri gue sendiri sebagai orang yang bersepakat dengan the youngest brother. yep, i take death as the old friend… entah mengapa, sampai dengan detik gw menulis ini, gue merasa siap untuk menghadapi kematian. gue pernah berada di kejadian ‘dikit-lagi-gw-mati’ paling engga 2x. di dua kejadian itu, detik-detik trakhir ‘nyaris-mati’, gw bergumam: “okaayy i’m ready, here comes the death” tapi kematian nampaknya belum menjemput gue, dan belum saatnya gue meninggal kali ya… buktinya gue masih bisa nulis gengges kaya gini. hehehe… 

okay, all done with me. but how about the others death?

memang sulit sekali rasanya membayangkan orang yg kita sayang dijemput oleh kematian. mungkin suatu hari nanti gue harus belajar ikhlas ketika ‘sahabat lama’ itu muncul disekitar gue. semoga gw bisa.

greetings for you, death.. see you when i see you 

@4 months ago

as simple as that

Gigi:Maybe his grandma died or maybe he lost my number or is out of town or got hit by a cab...
Alex:Or maybe he is not interested in seeing you again. If a guy doesn't call you, he doesn't want to call you.
-He's Just Not That Into You (2009)-
@4 months ago
source:9gag

source:9gag

@5 months ago
Danvo

Danvo

@1 month ago

an usual request

“nasi gorengnya jangan pedes ya, tanpa sayur”

“minumnya?”

“estee”

………….

“mi goreng dong pliisssssss”

“emang ga bs bikin sendiri apa!!”

” plis ya plis”

…………..

“seat-nya yang tengah udah abis. mau dihajar yg pinggir apa next show aja?”

“next show aja deh. mana enak pinggir”

………….

“cheese burger plain, lemon tea, upsize”

………….

“peluk dari belakang”

“ogah, ntar langsung tidur!”

………….

@1 month ago

(Source: karaleva)

@4 months ago with 1 note

Forewords

KATA PENGANTAR

 

Sebelumnya, sulit bagi saya untuk membayangkan bisa sampai kepada tahap penulisan kata pengantar. Penulisan bagian ini menurut saya cukup sakral, karena menandakan bahwa saya telah berhasil survive dalam menyelesaikan pendidikan pada bidang ilmu filsafat. Skripsi ini-pun sebenarnya adalah sebuah curahan hati yang dikemas dalam bentuk penulisan ilmiah. Jika pembaca menemukan kalimat yang mengandung kesan emosional, maka penulis memohon untuk dimaklumi. Filsafat, sebuah jurusan yang pada awalnya saya ambil sebagai jenjang pendidikan S1 karena dilandasi atas rasa penasaran. Seiring berjalannya waktu, menyadari kalau sebenarnya saya ini salah masuk jurusan. Filsafat bukanlah passion saya. Namun prinsip saya, ketika anda telah memulai sesuatu, maka anda harus menuntaskan hal itu. Disinilah saya pada titik akhir, yang kemudian menyadari bahwa filsafat memang bukan gairah dan bukan cita-cita, ia merupakan refleksi hidup yang tidak akan pernah padam sampai akhir nafas saya. Tidak lupa, Puji syukur dan ucapan terima kasih untuk berbagai pihak yang telah mendukung saya selama ini. Mereka adalah:

1. Tuhan YME, yang selalu memberikan saya kesempatan, harapan, dan kekuatan sampai dengan detik ini. terimakasih untuk berkat-mu selama ini.

2. Agung Hari Kristanto., S.E bapak yang nyentrik dan unik. Terimakasih atas kebebasan dan kepercayaan  yang telah diberikan kepada saya untuk dapat menentukan sikap dan arah hidup. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungannya yang hampir setiap hari di lontarkan kepada saya. Dra. Rita Magdalena, ibu yang bermental baja, ibu yang membesarkan saya dengan penuh keikhlasan dan tidak pernah berhenti untuk membimbing saya menjadi perempuan yang tangguh dan ber-akhlak baik. Skripsi inipun saya persembahkan untuk ibu. Juga kepada Hafizh Derian, adik saya yang ajaib. Mereka semua adalah motivasi terbesar untuk sukses. Tujuan hidup saya tidak lain dan bukan adalah untuk membuat mereka terus bangga.

3. Tommy F. Awuy., S.Sastra selaku pembimbing saya yang selalu sabar dalam proses bimbingan penulisan skripsi ini. pertukaran pikiran, transfer ilmu, dan waktu yang telah diberikan kepada saya menjadi serangkaian hal yang saya apresiasi. Dr. Embun Kenyowati Ekosiwi selaku pembimbing akademis sekaligus penguji skripsi saya. Terima kasih atas atensinya kepada saya yang telah membimbing saya mulai dari awal perkuliahan hingga akhir proses kegiatan akademik. Serta L.G. Saras Dewi., M.hum selaku ketua departemen dan juga penguji skripsi. masukan-masukan mereka sangat berguna untuk memperbaiki beragam kekurangan yang terdapat dalam skripsi saya. Tidak boleh terlewatkan juga Mba Upie, atas beragam diskusi seru beserta ‘candu-candu’ mematikan yang diberikan diluar kelas. Kepada seluruh staf pengajar dan pegawai di departemen filsafat atas atensi dan ilmu yang dibagikan kepada saya selama ini.

4. Dipa & Melysha. Terimakasih atas diskusi panas di luar ruang sidang. Yang saya akui berdiskusi dengan mereka sangat mematikan dan memberikan banyak masukan yang bisa memperkaya isi pengetahuan skripsi ini.

5. Partner dalam segala hal, Khalil Gazali R. terimakasih selama hampir 4 tahun belakangan ini telah menjadi anugerah yang datang dalam kemasan musibah. (hehe… just kidding) May the force be with you.

5. Sahabat-sahabat terdekat saya Nazma, dengan dukungan yang bersifat menjatuhkan namun sebenarnya membangun (No need to say  sweet words between us). Dhannisa, atas semua saran logisnya yang selalu saya apresiasi. Chika, dengan taruhan antara kami yang membuat saya semakin terpacu untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Fanie, sesama pejuang skripsi (akhirnya balairung ya…). Babon Tia, terimakasih atas persahabatan dan support yang dijalin selama menjalani studi di filsafat.Chacha, perempuan sarkas yang saat ini berbahagia dengan keluarga kecilnya. Christie, smartass women yang membuat saya percaya bahwa membuat skripsi itu Cuma butuh waktu satu bulan saja! Lita & Ncek, my childhood best friend. We grown up together but we know, we still remain child at heart.

6. Teman-teman seangkatan, Filsafat 2007. Mereka terdiri dari Adit, Alfa, Angga, Anggi, Austin, April, Chacan, Connie, Djohan, Dipa, Era, Fahri, Fitri, Gaby, Haree, Heri, Isky, Iqit, Kari, Leo, Nia, Nila, Panji, Reni, Richard, Sabrina, Shane, Taufik, Tia, Tea, Tika, Weber, Wira. Disatu sisi kami terkotak-kotak membentuk komuninya sendiri, disisi lain kami melebur menjadi satu dalam suasana suka cita. Sungguh sebuah ikatan yang unik. Terimakasih atas perjalanan yang menyenangkan bersama kalian selama 4 tahun ini. Baik di dalam ruang kelas, maupun diluar kelas. Percakapan serius maupun santai, serta saling support antara kami menjadikan kekerabatan kami begitu akrab dan romantis.

7. Pihak-pihak yang selama ini turut membuat semarak hari-hari saya. SBA Family, terima kasih atas kegilaan dan kegembiraan yang telah kita alami 9 bulan belakangan ini. Cinta ternyata bukan hanya soal waktu, tapi persamaan diantara kami yang membuat kisah ‘cinta’ kami begitu sulit untuk dilupakan.

 

 

Jakarta, 20 Januari 2012

 

Winnie Ariane 

@4 months ago
@5 months ago with 12994 notes